• SLIDER-1-TITLE-HERE

    Korporasi Kanefusa[...]

  • Info

    Produk Kanefusa[...]

  • Produk Kanefusa

    Produk Kanefusa[...]

  • Produk Kanefusa

    http://www.wigo-verktoy.no/Foto/Kanefusa%20logobilde_Ny%20tekst%2002.jpg[...]

Tampilkan postingan dengan label buruh kanefusa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buruh kanefusa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

masalah PHK kanefusa

Posted by mindi on 21.21


Yth. Pak Sur,


Betul, Pak. Memang pengalaman itu guru yang baik. Ia mengajari orang yang tepat, karena selalu memberikan kita sebuah nasihat. Tapi seperti biasanya pengalaman hanya bisa memberi nasihat melalui peristiwa yang telah lewat, memberikan wejangan dengan kejadian yang sudah usang. Maka pengalaman itu tak ubahnya seperti guru baik yang datangnya selalu terlambat. Tak pantas untuk terus digugu dan ditiru. Toh nasehat juga kalau telat, tidak lebih mulia dari pahlawan yang datang kesiangan.

Kini memang kami mengerti. Tapi entah mesti berbuat apa lagi. Kami hanya bisa berdiri di sini. Di pinggir jalan milik EJIP ini. Kencing di selokan. Tidur di pinggir jalan. Beralas tikar di atas trotoar. Pesta sebentar lagi selesai. Hajatan hampir usai. Tak ada lagi slogan. Hanya rasa bosan. Spanduk pun sudah mulai melapuk. Kini kami hanya bisa menunduk. Bendera tak berhenti berkibar, memang. Hati kami selalu berdebar, ternyatah kalah bukan menang. Kini kami enggan untuk kembali berkobar. Karena kami sudah mulai muak dan mual oleh ini keadaan.

Keadaan yang kini hanya menyisakan sesak dan sesal. Kelu dan kesal. Kenapa kami bisa berbuat sedemikian nekat. Menggerakan teman senasib, membaiat teman sejawat untuk tidak saling berkhianat. Merapatkan barisan sambil berteriak bila perlu menghujat dan melaknat mereka yang khianat. Mulai dari bekas rekan sejawat sampai aparat bahkan pejabat. Ini kami punya hajat. Siapapun bisa kami hujat. Semua bisa kena damprat. Jangankan cuma atasan atau orang Jepang. Polisi, menteri bahkan presidenpun berani kami maki. Kapan lagi buruh bisa begini. Buruh bersatu tak bisa dikalahkan.

Setahun lebih telah kami lewati. Dari ramadhan menuju ramadhan lagi kami sudah terbiasa berpuasa kerja. Dan sekarang mulai terasa batas-batas solidaritas itu. Karena satu persatu kami kini menjadi sangsi. Mulai ragu akan arti perjuangan itu. Untuk apa. Dan untuk siapa. Kami hanya bisa mengais rizki dari rasa belas kasihan orang di pinggir jalan. Pakaian kami yang mulai kumal dan wajah kami sudah bebal pandangan yang sinis dan ironis. Kulit kami pun sudah mati rasa. Di tenda ini telah kami rasakan ratusan gigitan nyamuk. Dinginnya malam di waktu hujan yang begitu menusuk tulang rusuk. Kini kami mengerti kenapa di kitab suci sering ditulis bahwa manusia adalah makhluk yang paling rajin mendholimi dirinya sendiri. Nasib ini terjadi, petaka ini datang karena diam-diam secara tak sadar kami sendiri memang telah mengundangnya.

Kini akhirnya hanya lalu lalang kendaraan orang-orang yang pergi dan pulang kerja yang bisa kami nikmati sehari-hari. Sebenarnya betapa getir dan irinya hati kami melihatnya. Melihat mereka yang bisa hilir mudik bekerja, berjuang menafkahi isteri dan anaknya. Membangun negeri memberi maslahat pada orang banyak. Karena melalui keringat dan kerja buruh akan tercipta barang yang bisa didistribusikan dan dimanfaatkan masyarakat. Roda ekonomi berputar. Ada pajak yang bisa disumbangkan untuk pembangunan. Undang-undang BPJS yang kami perjuangkan pun tak kan bisa jalan tanpa ada iuran dari para buruh-buruh yang bekerja – bukan penganggur atau yang cuma bisa tidur di sebuah tenda. Kini kami sadari bahwa tugas buruh adalah berkeringat dengan membuat barang yang bermanfaat, bukan berteriak apalagi menghujat teman sejawat. Biarkan yang berkeringat dan berteriak adalah tugas anggota dewan dan para politis saja.

Di keremanangan malam di tenda perjuangan sering terbayang wajah orang tua kami di desa, lucunya isteri dan anak-anak tercinta di rumah. Ah… di atas jalanan ini memang bukan tempat yang pantas untuk berjuang dan apaalgi untuk cari nafkah.

Pak Sur, tolong cepat kami gusur. Agar kami bisa segera kembali ke pangkuan orangtua kami. Supaya kami bisa pulang menemui isteri dan anak-anak kami yang sudah lama menanti. Agar kami bisa merenda hidup dan meniti hari-hari kami lebih baik lagi.

Hidup kadang hanya masalah waktu dan persoalan menunggu. Menunggu sesuatu yang Kekal, tanpa kesal tanpa sesal. Menanti sesuatu yang Abadi, dengan sepenuh hati.

Rabu, 15 Juni 2011

Kenapa Kau nganggu ladang kami ?

Posted by mindi on 18.59

Kenapa Kau nganggu ladang kami ?

Setahun sudah tempat kami bekerja terjadi perselisihan, Setahun juga berarti kami bekerja tidak seperti dalam keadaan normal,
mengambil hikmah dari sebuah kejadian dan optimisme adalah sebuah keadaan yang terus kami bangun untuk giat dalam bekerja dan berusaha,
namun tetap saja itu menjadi pergunjingan bagi kedua belah pihak, kami yang bekerja disebut terus sebagai kacung pengusaha dan mereka yang gagah berani mogok kerja
disebut sebagai pejuang yang membela hak hak mereka, kami yang berusaha disebut pengkhianat bangsanya sendiri dan tidak mempedulikan rekannya yang mogok malah membela
perusahaan yang notabene adalah perusahaan jepang yang dahulu menjajah negeri indonesia ini,
Miris rasanya hati ini ketika kami dibilang pengkhianat bangsa padahal awalnya kami adalah sahabat yang bisa bersenda guarau dan bercengkrama, seakan akan kami adalah
penjahat sekelas teroris yang halal darahnya karena tidak ikut dalam berjuang,
apakah benar kami seorang pengkhianat bangsa?
tuhan ...
kami berbuat tidak serta merta tidak ada pertimbangan yang bisa membuat kami terus bekerja dan tidak ikut dalam mogok kerja
tidak berarti bahwa kami sudah hidup sejahtera karena kami tetap menggantungkan dan hanya dibayar sebatas gaji bukan daging
tidak berarti kami ingin mencelakakn sahabatku ketika mereka mengajak berdemo tapi kami tidak mau beradu argumen

lalu kenapa sekarang pada mau bekerja kembali setelah perusahaan memenangkan di tingkat pengadilan tentang masalah ini?
apakah mereka lupa kata kata mereka bahwa jika kamu berkerja di sini berarti kamu berarti mau dijajah
dan betapa hinanya bangsa ini dijajah, kami ingat kata kata itu kawan !!!!
bukankah anda yang meneriakan kami orang gila ... orang gilaaa tak tahu maluu ....
masih terngiang ngiang di telinga ini kata kata itu , sumur hidup kami baru kali itu kami dituduh jadi orang gila oleh banyak orang
yang terorganisir dan kami tidak kenal sebelumnya siapa mereka,

kawan ..
kami bekerja karena kami punya tanggung jawab keluarga kami yang kami sudah ikrar dihadapan puluhan orang untuk menafkahinya
kami punya tanggung jawab terhadap customer yang setia menunggu barang walaupun barang sering telat datangnya.
kami punya tanggung jawab terhadap tanda tangan kami dimana kami sudah berikrar akan bekerja secara professional
kami menanggung amanah dari sang penyimpan modal bahwa kami bisa dan mampu mengelola dan menjaga modalnya dengan baik bodoh
bukan kami tidak bisa mencari pekerjaan lain diluar sana, tapi ini adalah ladang kami yang sudah ikrar kami akan menggarapnya bersama sama
kami juga tidak bodoh bodoh amat dalam masalah perundang undangan dan telah dibuktikan dipengadilan bahwa apa yang kami fahami itu benar.
kami tidak mau menuruti hawa nafsu sebahagian orang demi golongan yang lebih banyak.
dan kenapa kami tidak dibeitahu dengan gambalang tetnang rencana itu, terus kami disalahkan karena tidak ikut mogok?
bukankah anda adalah wakil kami yang harus memberitahukan hasilnya kepada yang diwakilinya.
tempelkan saja ..... biarkan semuanya menialai dan membacanya ... biarkan management membuat sangahan
apa susahnya... jangan berbisik bisik .... jangan hanya sebagian orang yang kau bisiki
seolah olah kami tidak dipercaya dan kami punya niat busuk .... dan kami layak disingkirkan ...
rusa pun tak ingin mati ditangan sang penembak jitu sekalipun...

lalu sekarang
kenapa semua yang kau lakukan dianggap sebagai pembenaran yang ternyata tidak benar
lalu kenapa bagi anda bisa dan tidak salah bila dilakukan tapi bagi kami selalu salah bila kami lakukan.
bukankah menghalang halangi orang berusaha dan bekerja melanggar ham.
bukankah merusak barang itu adalah perbuatan yang salah?
bukankah memfitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,
kau halalkan segala cara demi memenangkan sebuah pertarungan setelah beradu strategi tidak menang.
membela sesuatu sampai mati walaupun itu memang benar benar salah, bukankah itu jiwa pecundang?

kawan ...
jangan gangu ladang kami ....
jika anda menyatakan ladang ini tidak baik dan sangat jelek ...
lihatlah disekeliling ladang ini ... berarti ladang ladang yang lain lebih baik dari ladang ini
berarti banyak ladang yang anda bisa garap,
sekali lagi kami doakan agar anda menjadi lebih baik, bahkan lebih baik dari kami disini
biarlah kami menggarap ladang ini meskipun menurut anda tidak baik
karena menurut kami inilah yang terbaik

Senin, 20 September 2010

buruh kanefusa

Posted by mindi on 20.02

Seolah olah ada yang membedakan antara Buruh dan karyawan,
memang semuanya mempunyai sejarah historis dimana tahun 1965 ada istilah SOBSI dan Istilah SOKSI
dimana ada serikat Buruh dan Ada serikat karyawan,
Pasca reformasi di Indonesia, pengertian buruh, pekerja, karyawan atau pegawai memiliki konotasi dan definisi yang sama, yakni seseorang yang menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Penyamaan definisi mempengaruhi penamaan organisasi masing-masing.

Serikat buruh, serikat pekerja, serikat karyawan atau organisasi wadah pegawai di luar kedinasan lainnya memiliki definisi yang sama, yaitu :
organisasi yang memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.
Pendifinisan tersebut ditegaskan didalam UU No.21/2000 tentang Serikat Buruh (SP)/Serikat Pekerja (SP) dan UU lainnya yang terkait dengan hubungan Industrial,
seperti UU No. 13/2003 dan UU No. 2/2004. UU dimaksud merupakan hasil ratifikasi dari Konvensi ILO. Namun jika terdapat perbedaan, biasanya terletak pada
sejarah terbentuknya masing-masing organisasi.
Di dalam penjelasan UU No. 21/2000 ditegaskan, bahwa : Pekerja/buruh merupakan mitra kerja pengusaha yang sangat penting dalam proses produksi dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya, menjamin kelangsungan perusahaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Sehubungan dengan hal itu, SP/SB merupakan sarana untuk memperjuangkan kepentingan pekerja/buruh dan menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis,
dan berkeadilan. Oleh karena itu, pekerja/buruh dan SP/SB harus memiliki rasa tanggung jawab atas kelangsungan perusahaan dan sebaliknya pengusaha harus
memperlakukan pekerja/buruh sebagai mitra sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.
di kanefusa ada yang menamakan buruh kanefusa, ada juga yang menyatakan karyawan kanefusa dan ada juga yang menyatakan pegawai kanefusa,
terserah apa namanya yang penting sama sama bekerja, mau namanya buruh kanefusa atau karyawan kanefusa atau pekerja kanefusa atau pegawai kanefusa
atau juga kuli kanefusa,
akan tetapi jika kita masih mengakui bahwa kita sebagai buruh di kanefusa kita seyogyanya mempunyai rasa memiliki, mengayomi dan membuat semuanya menjadi lebih baik
lebih baik dalam arti luas

 
  • Paguyuban Karyawan Kanefusa Indonesia

  • Paguyuban Karyawan Kanefusa Indonesia